Selasa, 26 Oktober 2010

Filosofi Angin


Saya menyebutnya juga sebagai prinsip. Filosofi angin ini juga yang seringkali menjadi inspirasi untuk saya. Walaupun secara jujur saya akui, pengejawantahan dari prinsip ini sering juga membuat saya merasakan tidak enak hati. Alasannya, saat kita melakukan sebuah kebaikan, justru tidak menemukan penghargaan dari orang. Kebaikan yang diupayakan dengan susah payah, selanjutnya tidak dihargai. Karena konsep angin memang ia tidak akan bisa terlihat dengan mata. Hanya manusia yang mengizinkan semua inderanya merasakan hembusan angin disetiap pori-porinya, yang akan bisa ‘melihat’ angin tersebut. Sedangkan sebagian yang lain yang memilih yang lain, akan berkeyakinan bahwa hanya yang bisa terlihat saja yang layak untu dihargai.

Angin itu bisa memiliki energi menghidupkan. Sekaligus ia juga memiliki kekuatan menghancurkan.
Dari sini, saya lebih menujukan energi menghidupkan dan menghancurkan pada sisi kemungkinan positif yang bisa ditransformasikan kedalam berbagai bentuk daya lainnya. Menghidupkan bisa ditetaskan lagi sebagai kreatifitas, sebagai daya inovasi. Sedangkan Menghancurkan bisa dibentuk sebagai energi penyelesaian, menjadi buldoser untuk menghilangkan berbagai problematika yang ada di tengah dunia, dari skala besar hingga juga ke tingkatan yang paling kecil, ego, personal.

Diantara kedua ruang potensi energi yang dimiliki angin, [6] terdapat sebuah titian yang sering diistilahkan dengan transformasi. Sebuah model merubah suatu bentuk ke bentuk lain. Nah, yang dirubah disini adalah energi menghidupkan dengan bentuk yang lebih “memanusia”, sebut saja kreatifitas, inovasi, transfer energi dan sejenisnya. Begitupun dengan energi menghancurkan: Menjadi problem solver, pemecah masalah. Tidak dimaknakan sebagai penghancur dunia dan berbagai tatanan masyarakat yang telah ada. Tetapi lebih pada kesediaan menjadi bagian dari manusia yang peka dan peduli pada berbagai persoalan masyarakat. Mengingat, dari ajaran berbagai agamapun, seringkali manfaat seseorang terhadap manusia lainnya seringkali mendapatkan tempat yang bisa disebut prioritas yang sangat dianjurkan.

Bahasan ini mengingatkan saya pada seorang paranormal yang cukup kesohor di indonesia. Dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi swasta Nasional, ia berbicara tentang santet. Santet, awalnya sering dipandang sebagai sesuatu yang mengerikan, punya daya untuk membunuh manusia. Tetapi justru santet itu juga bisa ditransformasikan untuk membunuh penyakit manusia, membunuh virus atau bakteri penyebab penyakit.

Dari itu, saya memperhatikan, sebenarnya banyak sekali karunia Tuhan yang bisa dipergunakan manusia untuk manusia lainnya. Berbagi manfaat. Ups, tunggu dulu, saya coba mengevaluasi apa yang saya bahas diatas dengan apa yang sedang saya bicarakan ini.

Iya, sepintas tidak adanya relevansi dan keterkaitan. Tapi jika saya berbicara seperti layaknya angin. Seperti inilah angin. Terlihat tidak memiliki arah yang jelas. Tapi sebenarnya ia malah memiliki mata angin yang menjadi patron, menjadi rel untuk kereta api dalam perjalanannya.

Tidak, sepertinya saya tidak akan menjadikan bahasan ini sebagai berhala kaku. Namun saya akan mengeksplore halaman selanjutnya seperti peluru senapan serbu. Tidak terlalu stagnan, tapi tidak akan lari dari konsep filosofi angin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar