Selasa, 26 Oktober 2010

Filosofi Angsa


Sebuah filosofi tentang pentingnya kebersamaan dan kekompakan dalam membangun kembali Aceh paska kehancuran diterjang bencana tsunami dan konflik selama 3 dasawarsa. Filosofi ini juga bermakna bagi setiap daerah di Indonesia dalam membawa misi pembangunan dan perubahan. Pernah dimuat di Aceh Institute tanggal 13/02/07, www.acehinstitute.org

Ini merupakan catatan pinggir dari keprihatinanku menatap Nanggroe (Aceh Darussalam).

TIGA PURNAMA telah berlalu, tsunami pun tinggal kenangan, namun manusia tenda masih ada di mana2, hingga membuat bencana tsunami itu terus membayang. Masyarakat miskin makin banyak, dan yang kaya makin kaya pun terus membludak.

Keprihatinanku makin bertambah ketika menyadari ada pembangunan namun seperti tak berarti. Rumah2 dibangun belum sempat ditempatin sudah pada rontok dan nyaris roboh; jalan2 makin menggenang dan berlubang, bahkan terus mengecil; jembatan belum apa2 udah putus bikin nafas kita juga nyaris putus. Sementara dana yang singgah tlah hitungan trilyun -- 24,8 trilyun.

Ada apa dengan pelaku rehab-rekon? Apa yang salah dengan kita? mentalitas kah? kekurangan dana kah? Entahlah.....

Di suatu sore ketika ku tercenung memikirkan tanah leluhur kedua lelaki kecilku itu, lahirlah catatan ini. Semoga ini tidak hanya sekedar renungan. Tapi ada langkah kongkrit untuk menyelamatkan bangsa dari keangkuhan dan keserakahan kita sendiri.

Salam 'angsa'
ZDj
--------------------

ANGSA

Tak seperti elang, angsa hidup berkawan. Mandi bersama, tidur bersama, dan mencari makan bersama. Dalam dunia sosiologis mereka lebih mencirikan diri sebagai masyarakat kolektif. Tetapi mereka tidak menyebut diri seperti itu. Apapun istilah yang ingin dilekatkan oleh para ilmuwan, silahkan saja, yang penting kami selalu bersama. Kira-kira begitulah sikap politik mereka.


Ini adalah isyarat alam yang dasyat. Kita tidak pernah menyadari keberadaannya karena semua berlalu secara alami. Padahal angsa mengajarkan kita banyak hal tentang arti tata tertib, kekompakan dan pertemanan. Saya pun tidak pernah serius memperhatikannya, hingga suatu hari seorang teman menghadiahi video berjudul “Fly Away Home” untuk arjuna kecilku. Inilah awal dimana saya tertegun pada kesan harmoni kehidupan. Sejak itu saya tertarik untuk mengamati kehidupan angsa-angsa itu di alam nyata, ternyata persis sama.


Di musim dingin, mereka bermigrasi ke Selatan, dan dimusim panas mereka kembali ke kediaman asalnya di Utara. Lalu lihatlah formasi yang mereka bentuk disaat terbang bermigrasi itu. Mereka membentuk formasi huruf V. Bukan tanpa alasan, karena para fisikawan mencatat bahwa tingkat resistensi terhadap angin akan lebih rendah, dalam formasi seperti itu, dibandingkan dengan terbang sendiri. Ini jauh lebih bermanfaat bagi mereka guna memacu kecepatan. Ini pelajaran satu.


Pelajaran kedua, bila ada anggota yang sakit, atau sayapnya kelelahan, lalu terlempar dari formasi, maka akan ada angsa yang lain yang datang mengapit untuk tetap terbang dalam formasi huruf V kecil yang baru. Dukungan sosial ini begitu penting, dalam menjaga kekompakan dan keberlangsungan hidup, agar yang lemah bisa tetap terbang dan tidak terjatuh sendirian. Berangkat bersama, terbang bersama, hingga sampai ditujuan juga bersama-sama. Seakan begitu filosofi mereka. Terbang sendirian bukan hanya soal keamanan, tetapi juga soal efektivitas kecepatan dan kepakan sayap.


Pelajaran ketiga, dan terpenting, setiap angsa saling bergantian mengambil alih komando. Bila si A kelelahan, maka si B dengan spontan menggantikannya. Tidak ada ketamakan untuk terus menjadi komandan, Juga tidak ada keinginan untuk mengkudeta kekuasaan. Semua bertindak menjadi imam yang baik dan makmum yang juga baik. Beginilah harusnya kerja sebuah tim dalam membawa misi kesuksessan. Apapun itu.


Jauh lebih penting, alih komando itu tidak hanya diantara angsa-angsa jantan saja, tetapi angsa betina juga mendapat tempat dan kesempatan. Tak ada istilah angsa jantan mesti di depan, dan angsa betina mengawal di belakang. Tetapi mereka terbang bersama, berbagi tugas, berbagi ruang serta peluang sama rata untuk menuju danau-danau bercuaca hangat.

Luar biasa!


Alangkah indahnya bila hidup kita --orang-orang kolektivistik-- bisa mencontoh kehidupan angsa --yang juga kolektivistik. Sayangnya, kita lebih senang menerapkan gaya hidup individualistik. Seperti kepiting, hidup penuh persaingan dan saling menjatuhkan. Padahal semua memiliki kesamaan cita-cita yaitu kabur dari keranjang. Si empunya tidak pernah khawatir akan kaburnya kepiting itu satu demi satu karena mentalitasnya memang mentalitas individualistik. Kepiting tdak punya kecerdasan sosial yang mumpuni, mereka tidak mampu bekerjasama. Maksud hati mau kabur dari keranjang tapi terjebak pada egoisme individual dimana lebih senang menguasai dan menginjak orang lain. Egoisme dan saling injak ini berakibat buruk pada kinerja kolektif, karena pada akhirnya tidak seorangpun bisa keluar secara selamat dari keranjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar