Sabtu, 16 Maret 2013

Belajar dari Keong


Ada pepatah mengatakan, “cari ilmu di mana saja, kapan saja dan berguru kepada siapa saja.”
Kali ini saya ingin mengajak teman-teman untuk mengambil hikmah dari seekor keong yang lemah tapi ternyata mengajarkan kebaikan yakni kesabaran. Orang seringkali tersulut emosinya manakala melihat orang lain berjalan begitu lambat atau mengerjakan sesuatu terlampau lama.
Apalagi kalau kita di jalan raya. Kita begitu kesal pada mobil atau motor yang berjalan lambat di depan kita sementara kita sedang terburu-buru. Sambil menggerutu tak jelas, kita mengklakson berkali-kali hingga menimbulkan kebisingan. Umpatan pun terdengar! “Jalannya kayak keong, lambat banget!” atau “Jalan jangan seperti keong!”
Bagaimana cara keong yang berjalan lambat, begitu lemah dan sering dijadikan bahan umpatan dapat mengajarkan kebaikan kepada kita? Inilah ceritanya.
Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan. Mulanya betapa senangnya aku mendapatkan tugas itu. Tugasnya jalan-jalan! Pasti yang kubayangkan adalah suatu yang indah. Tapi, betapa terkejutnya ketika tahu bahwa teman seperjalananku adalah seekor keong. Karena ini adalah tugas, maka aku beranjak juga untuk menunaikan tugas tersebut.
Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak, Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit sementara satu kali langkahku membuat jarak begitu lebar.
Emosiku keluar. Aku mendesak, menghardik, memarahinya, Keong memandangku dengan pandangan meminta maaf, seakan berkata : “Aku sudah berusaha dengan segenap tenaga!”
Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, tapi tetap berusaha merangkak ke depan.
Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan? Ya Tuhan! Mengapa ? Langit sunyi-senyap. Hanya desah pohon tergesek angin. Senja mulai nampak.
Biarkan saja keong merangkak di depan, aku kesal di belakang.
Pelankan langkah, tenangkan hati….
Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga.
Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut.
Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing.
Aku lihat langit penuh bintang cemerlang. Oh?
Mengapa dulu tidak rasakan semua ini ?
Barulah aku teringat, Mungkin aku telah salah menduga!
Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalo aku berjalan sendiri dengan cepatnya.
He’s here and with me for a reason
Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi, Haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.
Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.
Saat bertemu penolongmu, Ingat untuk bersyukur padanya.
Karena ialah yang mengubah hidupmu
Saat bertemu orang yang pernah kau cintai, Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima-kasih .
Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.
Saat bertemu orang yang pernah kau benci, Sapalah dengan tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat.
Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.
Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai, Berkatilah dia.
Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia ?
Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu, Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu
Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.
Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup, Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati
Terima kasih, Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar